Pondok Pesantren Suryalaya (1905)

Suryalaya adalah sebuah nama pondok pesantren yang terletak di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Pesantren ini terkenal dengan “Inabah” sebuah program yang dikhususkan untuk mengobati para pecandu narkoba dengan metode dziki.

Pondok Pesantren Suryalaya dirintis oleh Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau yang dikenal dengan panggilan Abah Sepuh sejak awal tahun 1905. Pada masa perintisan, mengalami banyak hambatan dan rintangan. Hambatan tersebut datang dari pemerintah kolonial Belanda, masyarakat sekitar pesantren dan juga lingkungan alam (geografis) yang cukup menyulitkan. Namun Alhamdullilah, dengan izin Allah SWT dan juga atas restu dari guru beliau, Syaikh Tholhah bin Talabudin Kalisapu Cirebon semua itu dapat dilalui dengan selamat. Hingga pada tanggal 7 Rajab 1323 H atau 5 September 1905, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad dapat mendirikan sebuah pesantren walaupun dengan modal awal sebuah mesjid yang terletak di kampung Godebag, desa Tanjung Kerta. Pondok Pesantren Suryalaya itu sendiri diambil dari istilah sunda yaitu Surya = Matahari, Laya = Tempat terbit, jadi Suryalaya secara harfiah mengandung arti tempat matahari terbit.

Pada awalnya Syeikh Abdullah bin Nur Muhammad sempat bimbang, akan tetapi guru beliau Syaikh Tholhah bin Talabudin memberikan motivasi dan dorongan juga bimbingan khusus kepadanya, bahkan beliau pernah tinggal beberapa hari sebagai wujud restu dan dukungannya. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pondok Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin

Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang dan mendapat pengakuan serta simpati dari masyarakat, sarana pendidikan pun semakin bertambah, begitu pula jumlah pengikut/murid yang biasa disebut ikhwan.

Dukungan dan pengakuan dari ulama, tokoh masyarakat, dan pimpinan daerah semakin menguat. Hingga keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya dengan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah-nya mulai diakui dan dibutuhkan. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dibantu oleh sembilan orang wakil talqin, dan beliau meninggalkan wasiat untuk dijadikan pegangan dan jalinan kesatuan dan persatuan para murid atau ikhwan, yaitu TANBIH.

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad berpulang ke Rahmattullah pada tahun 1956 di usia yang ke 120 tahun. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akbrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom. Pada masa awal kepemimpinan Abah Anom juga banyak mengalami kendala yang cukup mengganggu, di antaranya pemberontakan DI/TII. Pada masa itu Pondok Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI, untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara.

Perkembangan Pondok Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju, membaiknya situasi keamanan pasca pemberontakan DI/TII membuat masyarakat yang ingin belajar Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah semakin banyak dan mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Juga dengan penyebaran yang dilakukan oleh para wakil talqin dan para mubaligh, usaha ini berfungsi juga untuk melestarikan ajaran yang tertuang dalam asas tujuan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan Tanbih. Dari tahun ke tahun Pondok Pesantren Suryalaya semakin berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, maka pada tanggal 11 maret 1961 atas prakarsa H. Sewaka (Alm) mantan Gubernur Jawa Barat (1947 – 1952) dan mantan Mentri Pertahanan RI Iwa Kusuma Sumantri (Alm) (1952 – 1953). Dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setelah itu Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke Negara Singapura, Malaysia, Brunai Darussalam, dan Thailand, menyusul Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian ajaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah pun semakin luas perkembangannya, untuk itu Abah Anom dibantu oleh para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan juga wakil talqin yang berada di luar negeri seperti yang disebutkan di atas.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan Keagamaan, Sosial, Pendidikan, Pertanian, Kesehatan, Lingkungan Hidup, dan Kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia.

Kepemimpinan

Abah Sepuh (1905-1956)

Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad atau [[Abah Sepuh]] memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sejak awal didirikan. Pada tahun 1908 atau tiga tahun setelah berdirinya Pesantren Suryalaya, Abah Sepuh mendapatkan khirqoh (legitimasi penguatan sebagai guru mursyid) dari Syaikh Tholhah bin Talabudin dalam Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Sejak saat itu Pondok Pesantren Suryalaya dikenal sebagai pusat kegiatan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Untuk kelancaran tugas Abah Sepuh dalam penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah, dia dibantu oleh sembilan orang wakil talqin. Pada tahun 1956 di usian ke-120 tahun, Abah Sepuh wafat. Kepemimpinan dan kemursyidannya dilimpahkan kepada putranya yang kelima, yaitu KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin yang akrab dipanggil dengan sebutan Abah Anom.

Abah Anom (1915-2011)

Pada masa awal kepemimpinan, Abah Anom mengalami banyak kendala antara lain pemberontakan DI/TII. Pada masa itu, Pesantren Suryalaya sering mendapat gangguan dan serangan, terhitung lebih dari 48 kali serangan yang dilakukan DI/TII. Juga pada masa pemberontakan PKI tahun 1965, Abah Anom banyak membantu pemerintah untuk menyadarkan kembali eks anggota PKI, untuk kembali kembali ke jalan yang benar menurut agama Islam dan Negara. Setelah pemberontakan DI/TII dan PKI berhasil dilumpuhkan, perkembangan Pesantren Suryalaya semakin pesat dan maju. Faktor yang paling dominan adalah banyaknya masyarakat dari berbagai daerah yang ingin belajar Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Pada tanggal 11 Maret 1961I atas prakarsa alm. H. Sewaka mantan Gubernur Jawa Barat (1947-1952) dan mantan Menteri Pertahanan RI alm. Iwa Kusuma Sumantri (1952-1953), dibentuklah Yayasan Serba Bakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini dibentuk dengan tujuan untuk membantu tugas Abah Anom dalam penyebaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dan dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setelah pembentukan Yayasan Serba Bakti, Pondok Pesantren Suryalaya semakin dikenal ke seluruh pelosok Indonesia, bahkan sampai ke manca negara di antaranya: Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand, Australia, dan negara-negara di Eropa dan Amerika. Dengan demikian, ajaran Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah pun semakin luas perkembangannya. Maka untuk membantu tugas Abah Anom sebagai mursyid, dia mengangkat para wakil talqin yang tersebar hampir di seluruh Indonesia, dan di beberapa negara di luar negeri.

Pada masa kepemimpinan Abah Anom, Pondok Pesantren Suryalaya berperan aktif dalam kegiatan keagamaan, sosial, pendidikan, pertanian, kesehatan, lingkungan hidup, dan kenegaraan. Hal ini terbukti dari penghargaan yang diperoleh baik dari presiden, pemerintah pusat dan pemerintah daerah, bahkan dari dunia internasional atas prestasi dan jasa-jasanya. Dengan demikian eksistensi atau keberadaan Pondok Pesantren Suryalaya semakin kuat dan semakin dibutuhkan oleh segenap umat manusia.

Abah Anom wafat pada hari Senin tanggal 05 September 2011 pukul 11.55 dalam usia 96 tahun.

Lembaga Pendidikan

Lembaga Pendidikan Formal

Lembaga-lembaga Pendidikan pada masa Abah Anom, Secara langsung atau tidak langsung, berperan serta dalam mengembangkan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Jika pengembangan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah pada masa Abah Sepuh terbatas melalui media tradisional pesantren, maka dimasa kepemimpinan Abah Anom, selain menggunakan media tradisional yang telah ada, juga melalui lembaga pendidikan formal yang didirikannya dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi semuanya amat berperan dalam mengembangkan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Lembaga pendidikan yang ada dilingkungan Pondok Pesantren Suryalaya terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan formal dan non-formal. Pendidikan formal yang ada terbagi menjadi dua, yaitu pendidikan formal umum dan Keagamaan.

Pendidikan Formal Umum

  • Taman Kanak-kanak
  • Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
  • Sekolah Menengah Umum
  • Sekolah Menengah Kejuruan
  • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Latifah Mubarokiyah

Pendidikan Formal Umum

  • Madrasah Tsanawiyah
  • Madrasah Aliyah
  • Madrasah Aliyah Keagamaan
  • Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah

Lembaga Pendidikan Non-Formal

Pengajian Tradisional

Inabah

Inabah adalah istilah yang berasal dari Bahasa Arab “anaba-yunibu” (mengembalikan), sehingga inabah berarti pengembalian atau pemulihan. Maksudnya ialah proses kembalinya seseorang dari jalan yang menjauhi Allah ke jalan yang mendekat ke Allah. Istilah ini digunakan pula dalam Al-Qur’an yakni dalam Luqman surah ke-31 ayat ke-15, Surat ke-42, Al-Syura ayat ke-10; dan pada surat yang lainnya. Abah Anom menggunakan nama inabah menjadi metode bagi program rehabilitasi pecandu narkotika, remaja-remaja nakal, dan orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan. Konsep perawatan korban penyalahgunaan obat serta kenakalan remaja adalah mengembalikan orang dari perilaku yang selalu menentang kehendak Allah atau maksiat, kepada perilaku yang sesuai dengan kehendak Allah atau taat. Metode ini mencakup :

  • Mandi.
  • Sholat.
  • Talqin Dzikir
  • Pembinaan

Disamping kegiatan-kegiatan tersebut, juga diberikan kegiatan tambahan berupa: Pelajaran baca Al-Qur’an, berdoa, tata cara ibadah, ceramah keagamaan dan olahraga. Setiap anak bina di evaluasi untuk mengetahui sejauhmana perkembangan kesehatan jasmani dan rohaninya. Evaluasi diberikan dalam bentuk wawancara atau penyuluhan oleh ustadz atau oleh para pembina inabah yang bersangkutan. Atas keberhasilan metode Inabah tersebut, KH.A Shohibulwafa Tajul Arifin mendapat penghargaan “Distinguished Service Awards” dari IFNGO on Drug Abuse, dan juga penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasa-jasanya di bidang rehabilitasi korban Narkotika dan Kenakalan remaja.

Inabah terletak di beberapa lokasi:

  • Pondok Remaja Inabah I Malaysia : Kuala Nerang, Kedah, Malaysia
  • Pondok Remaja Inabah VII : Kp. Rawa,Sukahening Rajapolah – Tasikmalaya
  • Pondok Remaja Inabah XI : Kp. Ciseuti,Pagersari, Pagerageung – Tasikmalaya
  • Pondok Remaja Inabah XIV : Pagerageung Kab. Tasikmalaya
  • Pondok Remaja Inabah XVII Putri : Sukamulya, Cihaurbeuti Kab. Ciamis
  • Pondok Remaja Inabah XVIII : Cijulang, Cihaurbeuti Kab. Ciamis
  • Pondok Remaja Inabah XIX : Jl. Sidotopo Kidul No. 146-148 Surabaya
  • Pondok Remaja Inabah XX : Desa Puteran, Kec. Pagerageung, Kab. Tasikmalaya
  • Pondok Remaja Inabah XXIV : Sindangherang Kec. Panumbangan Kab. Ciamis
  • Pondok Remaja Inabah XXV : Banjarangsana, Kab. Ciamis
  • Pondok Remaja Inabah XXVI : Desa Tanjungkerta, Kec. Pagerageung, Kab. Tasikmalaya
  • Pondok Remaja Inabah XXVII : Pagerageung, Tasikmalaya

Was this article helpful?

Related Articles

Leave A Comment?